LINE Pay Jalin Kerja Sama dengan Visa, Hadirkan Solusi Fintech Baru

0

LINE Pay Corporation berkolaborasi dengan Visa yang di mana kedua perusahaan ini resmi membentuk layanan keuangan baru. Program ini ditujukan bagi para jutaan pengguna dan merchants mereka di seluruh dunia.

Kedua perusahaan akan berkolaborasi dalam berbagai area, di antaranya yakni:

Baca juga: Fakta Penting dari ‘Bitcoin’ Facebook yang Segera Rilis

1. ​​​​Pembayaran sehari-hari

187 juta pengguna aktif LINE di seluruh dunia dapat mendaftar untuk mendapatkan kartu Visa digital melalui aplikasi LINE. Nantinya juga dapat menambahkan kartu Visa mereka lainnya untuk menikmati sistem pembayaran yang mudah hanya lewat perangkat mereka.

2. Solusi bagi merchants

Melalui Visa, pengguna LINE dapat menggunakan layanan LINE Pay dari 54 juta lokasi merchants Visa di seluruh dunia. Membuat pengguna dapat mengakses ragam layanan dan penawaran LINE. Pengguna juga dapat melihat rekap transaksi dalam dompet digital LINE mereka, meskipun LINE Pay tidak tersedia di lokasi tersebut.

3. Layanan Fintech

LINE Pay dan Visa akan mengembangkan pengalaman baru yang didasarkan pada blockchain yang menyediakan B2B, pembayaran lintas batas, dan transaksi alternatif nilai tukar.

4. Pemasaran

Menuju Olimpiade Tokyo 2020, LINE Pay dan Visa akan bekerja sama dalam kampanye pemasaran eksklusif. Kegiatan ini adalah bentuk promosi berkontribusi untuk transisi Jepang menuju masyarakat non-tunai sebelum dan sesudah Olimpiade.

Baca juga: Grab for Business, Solusi Inovatif Pebisnis di Era Digital

Lewat kerja sama baru ini, nantinya akan semakin memperkuat hubungan yang telah ada antara LINE dan Visa. Tentu saja karena melibatkan kartu co-branded LINE Pay Visa di Taiwan dan yang akan segera diluncurkan akhir tahun ini di Jepang.

“LINE Pay lebih dari sekadar metode pembayaran. Seiring dengan transisi menjadi masyarakat non-tunai, fokus untuk meningkatkan nilai tambah bagi pengguna LINE serta partner bisnis di seluruh dunia.” jelas Youngsu Ko, CEO LINE Pay dan Perusahaan Fintech milik LINE.

“Dengan koneksi dan infrastruktur global yang dimiliki oleh Visa, pengguna LINE Pay dapat menikmati beragam keuntungan dari koneksi luas dan inovatif tersebut.” tambah Ko.

Baca juga: Apa Itu Deep Web, dan Apa Saja yang Ada Didalamnya?

Sementara itu, Chris Clark, Regional President, Asia Pacific, Visa, mengatakan, “Program co-branding Visa yang saat ini melayani 2.3 juta pelanggan di Taiwan merupakan salah satu program Visa yang paling cepat berkembang secara global.”

“Kami bangga dapat memperluas momentum ini di berbagai pasar di seluruh dunia. Komitmen LINE Pay adalah mengembangkan aplikasi pertukaran pesan LINE untuk memenuhi kebutuhan keseharian para pengguna. kami sangat terkesan dengan potensi kekuatan distribusi dan kesetiaan para pengguna LINE. Kami yakin ini sangat penting untuk menunjang pertumbuhan ekosistem pembayaran open-loop global yang dapat memberikan keuntungan untuk konsumer, merchants, serta industri perbankan secara keseluruhan.”

Pelayanan 3 Terhadap Pelanggan Selama Liburan dan Perjalanan Mudik

Selama musim Idul Fitri dan perjalanan mudik, pelanggan 3 Indonesia menikmati layanan streaming dan live video di beragam aplikasi konten video. Hal ini memicu lonjakan trafik di layanan video streaming hingga 40%. Secara umum, lonjakan trafik terjadi di jaringan 3 khususnya di layanan data meningkat lebih dari 40% dibanding hari biasa.

Lonjakan ini terjadi mulai H-10 bersamaan dimulainya libur Hari Kenaikan Isa Almasih dan berlanjut ke Idul Fitri. Namun, kepadatan dan lonjakan trafik ini tentu tidak akan menimbulkan kendala yang berarti. Antisipasi telah dilakukan sebelumnya sehingga layanan dapat beroperasi dengan baik.

Baca juga: Smartfren Hadirkan Kartu Perdana Untuk Wisatawan Mancanegara

Desmond Cheung, Chief Technology Officer 3 Indonesia mengatakan bahwa ia dan timnya telah memperluas kapasitas dan jangkauan 4G/4. 5GPro untuk membantu dan memudahkan pelanggan mengabadikan dan membagikan momen special secara real time selama perayaan Idul Fitri. Ia dan timnya berusaha untuk mengiringi perjalanan mudik dan liburan pelanggan dengan akses internet handal dari 3 Indonesia hingga saat kembali ke kota asal dengan selamat.

Video streaming yang kerap kali digunakan oleh pelanggan 3 ialah YouTube, Instastory, Live Report Instagram serta fitur Live Report Facebook. Aktivitas streaming ini menunjukkan sambutan positif pelanggan 3 atas produk kartu AMIPro (Anak Muda Indonesia) dengan unlimited akses ke YouTube dan VIU.

Pembelian mobile games juga meningkat sebesar lebih dari 100% dan mendorong kenaikan trafik Mobile Legend hingga 155%. Lonjakan trafik layanan data tertinggi terjadi di daerah wisata dan kota tujuan mudik yaitu , Purworejo, , Jombang dan .

Baca juga: Fakta Penting dari ‘Bitcoin’ Facebook yang Segera Rilis

3 telah melakukan transformasi core network system yang tersebar di 19 kota sehingga pengaturan trafik komunikasi data 3 tidak terpusat. Desmond menambahkan bahwa dengan diberlakukannya sistem ini memudahkan bagi ia dan timnya untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dalam menggunakan layanan internet 3. Memperluas kapasitas serta menyeimbangkan kapasitas jaringan dengan lancar.

Sehingga  pelanggan 3 dapat mengakses mobile games, Instagram, Facebook, aplikasi  instant messaging dengan lebih cepat. Ketersediaan layanan 3 di jalur mudik dan wisata merupakan wujud komitmen 3 untuk mendukung mobilitas pelanggan 3 dengan akses internet handal.

Jaringan 3 diperkuat oleh 65.000 unit BTS, hingga akhir Mei 3 Indonesia telah melakukan perluasan jangkauan di 364 kota dan kabupaten. Perluasan ini meliputi perluasan jangkauan kota yang sudah terlayani sebelumnya dan dibukanya kota baru.  3 Juga menempatkan sejumlah mobile BTS di titik-titik kepadatan trafik seperti rest area dan gerbang tol untuk optimalkan kapasitas layanan di jalan tol Merak – Sidoarjo.

Baca juga: Apa Itu Deep Web, dan Apa Saja yang Ada Didalamnya?

Apa Itu Deep Web, dan Apa Saja yang Ada Didalamnya?

Bagian tersembunyi dari internet yang ternyata sangat besar ini dikenal sebagai Deep Web. Pada dasarnya, Deep Web adalah bagian internet yang tidak bisa diakses lewat mesin pencari umum seperti Google.

Internet yang merupakan dunia digital mungkin sudah seperti layaknya rumah kedua bagi kita.

Hampir separuh waktu dalam sehari kita habiskan di dalam internet. Tapi ternyata, dunia internet yang kita kenal selama ini hanyalah sebagian kecilnya saja.

Sebagai contoh, mesin pencari (Google, Yahoo dll), media sosial, situs video atau situ berita, itu hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan bagian internet yang belum kita tahu.

Baca juga: Tantangan Huawei Jika Pakai Sistem Operasi Buatan Sendiri

Kenyataannya, semua situs yang saat ini bisa kita akses secara bebas hanyalah 5% dari keseluruhan isi dari internet.

Untuk bisa masuk ke Deep Web, kalian harus masuk secara langsung ke web tersebut tanpa bisa mencarinya lewat Google.

Maka dari itu, penyebaran alamat Deep Web ini bersifat rahasia dan tidak sembarang orang bisa tahu.

Sebagai gambaran sederhana, anggap saja dunia digital alias internet ini adalah lautan. Permukaan lautan yang dapat kita lihat adalah Google dan segala isinya yang luar biasa banyak.

Bagian permukaan dan perairan dangkal ini juga adalah tempat untuk semua media sosial yang sering kita mainkan.

Nah, Deep Web sendiri ada di posisi perairan dalam yang sulit ditembus manusia normal tanpa alat bantu.

Baca juga: Huawei Dikeluarkan dari SD Association Hingga Wi-fi Alliance

Karena dalamnya dan sulitnya akses, maka banyak wilayah di perairan dalam atau masih belum terungkap.

Pada umumnya berisi situs-situs rahasia yang menyediakan informasi rahasia pula.

Banyak yang beranggapan kalau Web ini berisi hal-hal ilegal yang sangat dilarang di dunia nyata.

Misalnya transaksi jual beli manusia, narkoba, jasa pembunuh bayaran, judi, prostitusi dan hal ilegal lainnya.

Singkatnya, para pengembang situs di Deep Web ini bisa bebas membuat konten tanpa perlu takut mendapat teguran dari pihak berwajib karena situs mereka sulit diakses.

Secara umum, Deep Web memang terlihat berbahaya dan kejam, tapi sebenarnya Deep Web juga jadi lokasi yang bermanfaat untuk beberapa hal.

Baca juga: Huawei Di-Blacklist AS, Bagaimana Nasib Xiaomi, Oppo, dan Vivo

Misalnya situs-situs rahasia pemerintah dunia atau penyimpanan aset rahasia lainnya yang tidak ada kaitannya dengan kriminalitas.

Itulah penjelasan singkat tentang betapa hebatnya Deep Web di dalam dunia internet.

Fakta Penting dari ‘Bitcoin’ Facebook yang Segera Rilis

Facebook kabarnya akan segera meluncurkan uang digital alias cryptocurrency berbasis teknologi blockchain, mirip dengan bitcoin. Seperti diungkap WirtscaftsWoche, white paper dari uang digital Facebook ini akan dirilis 18 Juni ini. 

Sedangkan untuk implementasi resminya, kemungkinan besar akan dilakukan tahun 2020.

Kabar tentang uang digital Facebook memang sudah berhembus sejak tahun lalu. Melalui fitur uang digital ini, Facebook ingin menciptakan sistem finansial berbasis layanan mereka, termasuk WhatsApp dan Instagram.

Konsep besarnya adalah pengguna Facebook/Instagram/WhatsApp bisa saling mengirim/menerima uang digital dengan mudah, termasuk jika beda negara. Uang digital Facebook ini juga bisa dimanfaatkan untuk transaksi kecil (microtransaction) seperti membeli barang atau makanan; mirip seperti kita menggunakan GoPay atau OVO saat ini.

Berikut adalah beberapa hal penting lain yang perlu Anda ketahui.

Baca juga: Smartfren Hadirkan Kartu Perdana Untuk Wisatawan Mancanegara

1. Uang digital sendiri

Uang digital Facebook ini adalah ciptaan Facebook sendiri, jadi bukan berbasis uang digital yang sudah ada seperti Bitcoin atau Ethereum. Secara operasional, Facebook juga akan mengelola sendiri peredaran uang digital ini. Nama uang digital ini sendiri belum ada, namun beberapa nama yang berhembus adalah GlobalCoin dan Libra.

2. Uang digital Facebook tidak akan “seliar” Bitcoin

Salah satu masalah utama di cryptocurrency seperti Bitcoin adalah nilainya yang bisa naik-turun dengan fluktuatif. Namun Facebook menjamin, uang digital mereka tidak akan “liar” seperti itu.

Untuk menjamin nilai mata uangnya, Facebook akan melakukan beberapa cara. Yang pertama adalah menyediakan dana sebesar US$1 miliar yang akan ditempatkan di berbagai institusi finansial. Dana itu berfungsi seperti jaminan untuk menjamin kestabilan nilai uang digital FB.

Cara kedua adalah jaringan blockchain untuk mata uang ini juga tertutup dan terbatas, tidak bebas seperti Blockchain.

Baca juga: Perusahaan Lakukan Transformasi Digital, SDM Jangan Dilupakan

3. Biaya Transaksi Gratis

Dalam usaha mempopulerkan uang digital ini, Facebook tidak akan mengutip biaya transaksi; setidaknya di awal. Kalaupun ada biaya, Facebook akan mematok nilai jauh di bawah biaya transfer antar bank atau antar negara yang berlaku saat ini.

Facebook juga menjanjikan insentif menarik bagi penjual atau pemilik toko untuk mengadopsi mata uang ini.

4. Facebook juga akan sediakan ATM

Idealnya, uang digital Facebook ini akan beredar secara digital pula. Misalnya ketika Anda mendapat transfer dari teman via Facebook, uang digital itu akan Anda gunakan membayar transaksi di bubur ayam langganan via Whatsapp.

Namun Facebook juga membuka kemungkinan untuk menyediakan ATM khusus sehingga uang digital tersebut dapat diuangkan ke Rupiah atau mata uang lain.

Mengancam Tatanan

Dengan semua kelebihan yang ditawarkan, uang digital Facebook ini tentu saja mengancam pelaku industri finansial yang ada saat ini.

Contohnya pelaku industri remittance atau transfer antar negara. Data Bank Indonesia menunjukkan, dana kiriman TKI ke Indonesia mencapai US$128 triliun per tahun. Bayangkan jika TKI bisa mengirim dana ke keluarganya di Indonesia menggunakan Whatsapp tanpa biaya atau dengan biaya yang sangat murah.

Facebook juga tidak akan kesulitan melakukan penetrasi pasar. Dari 150 juta pengguna media sosial di Indonesia, 81% adalah pengguna Facebook, 80% pengguna Instagram, dan 83% pengguna Whatsapp. Belum lagi jika memperhitungkan pengguna Facebook di seluruh dunia yang mencapai 2 miliar orang.

Akan tetapi, semua faktor tersebut belum menjamin kesuksesan mata uang digital Facebook ini. Mark Zuckerberg kabarnya yakin project ini sukses, sementara Sheryl Sandberg (COO dan CFO Facebook) justru skeptis.

Kita tunggu saja, sejauh mana efek mata uang digital Facebook ini terhadap tatanan finansial dunia dan Indonesia.

Baca juga: Tantangan Huawei Jika Pakai Sistem Operasi Buatan Sendiri

Grab for Business, Solusi Inovatif Pebisnis di Era Digital

0

Grab perkenalkan sejumlah layanan terbaru dari Grab for Business sebagai solusi pengelolaan pengeluaran transportasi yang didesain khusus untuk kalangan pebisnis. 

Executive director Grab Indonesia Ongki Kurniawan mengungkapkan, Grab for Business merupakan solusi inovatif yang menjawab kebutuhan kalangan pebisnis. Berfungsi mengelola pengeluaran perusahaan dengan lebih efisien melalui platform teknologinya. 

“Perusahaan-perusahaan telah berhasil meningkatkan efisiensi sebesar 30 persen. Produktivitas karyawannya hingga 50 persen sejak menggunakan layanan ini,” ungkapnya.

Baca juga: Kalangan Milenial Mulai Tertarik Jadi Investor Fintech

Mulai dari perjalanan, bukti pembayaran, hingga proses klaim dapat dengan mudah dilakukan baik oleh perusahaan maupun pekerja profesional. 
Mencakup informasi perjalanan termasuk nama karyawan, tanggal dan waktu perjalanan, lokasi penjemputan dan penurunan, jenis kendaraan dan metode pembayaran yang dipilih.

“Layanan ini tidak hanya menjawab kebutuhan kalangan pebisnis yang kian kompleks tapi juga memberikan nilai tambah.” ungkap Head of Grab for Business Indonesia Roy Nugroho.

Baca juga: Smartfren Hadirkan Kartu Perdana Untuk Wisatawan Mancanegara

Grab for Business juga memungkinkan perusahaan-perusahaan untuk melacak dan mengelola pengeluaran perjalanan bisnis berdasarkan divisi dan tim masing-masing proyek. Hal ini membuat perjalanan bisnis perusahaan menjadi lebih efisien.

Hal tersebut terlihat melalui layanan yang aman, nyaman, metode pembayaran non-tunai yang praktis. Efektivitas yang dapat mengurangi pengeluaran perusahaan. Tentunya hal ini sangat diinginkan oleh setiap perusahaan, mengingat kecilnya pengeluaran yang dikeluarkan oleh perusahaan.

Selain itu, Direktur PT Mitra Integrasi Informatika Alexander Kuntoro mengakui dengan menggunakan Grab for Business selama tujuh bulan pertama, perusahaannya telah berhasil menurunkan pengeluarannya secara signifikan yakni hingga 39 persen.

Bagaimana cara menggunakan Grab for Business sebagai karyawan?

Kamu bisa menggunakan aplikasi Grab seperti biasa untuk memesan perjalanan bisnis bersama Grab di negera-negara di mana layanan Grab tersedia. Lalu, tandai perjalananmu.

Sebagai pengguna Grab for Business yang terdaftar, Kamu bisa menandai perjalanan sesuai Employee Group di mana kamu bergabung. Tagihkan perjalananmu.

Jika Administrator sudah mengaktifkan Corporate Billing Account atau menambahkan Kartu Kredit Perusahaan sebagai metode pembayaran tambahan, kamu bisa langsung menagihkan perjalanan bisnismu ke pilihan pembayaran tersebut ketika memesan Grab. Terakhir ialah laporan perjalanan.

Semua perjalanan yang Anda buat akan tersimpan di dalam akun Grab for Business perusahaanmu. Cukup log in ke akun Grab for Business Anda untuk melihat dan mengunduh Laporan Perjalanan Anda.

Baca juga: Perusahaan Lakukan Transformasi Digital, SDM Jangan Dilupakan

Kalangan Milenial Mulai Tertarik Jadi Investor Fintech

0

Perusahaan financial technology (fintech) KoinWorks mengungkapkan fakta bahwa 70 persen investor di bisnisnya berasal dari kalangan milenial dengan rentang usia 25 hingga 35 tahun.

Chief Marketing Officer KoinWorks Jonathan Bryan mengatakan bahwa kalangan milenial yang berinvestasi di perusahaannya didominasi oleh pemain baru. Artinya, mereka sama sekali belum pernah terjun di bidang deposito atau reksadana.

Sedangkan secara keseluruhan, jumlah investor di KoinWorks sudah melebihi angka 148 ribu. Nominal paling kecil yang bisa diinvestasikan di perusahaan fintech sebesar Rp100 ribu.

Baca juga: Perusahaan Lakukan Transformasi Digital, SDM Jangan Dilupakan

“Pada dasarnya investor bisa memilih ke mana uangnya ingin dipinjamkan. Pendana bisa melihat siapa peminjamnya, bunganya berapa, tenornya berapa dan untuk apa dana yang dipinjam,” ujar Jonathan di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, pada Selasa (28/5/2019).

Adapun jumlah peminjam dana (borrower) mencapai 100 ribu orang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Meski begitu, KoinWorks tidak memberi jaminan kepada investor bahwa mereka akan meraup keuntungan. Akan tetapi, perusahaan telah menyiapkan dana proteksi yang bisa dicairkan ketika terjadi kasus kredit macet.

Baca juga: Tantangan Huawei Jika Pakai Sistem Operasi Buatan Sendiri

Soal limit atau batasan pinjaman yang disediakan KoinWorks mulai dari Rp 10 juta hingga mencapai Rp 2 miliar, sesuai dengan ketentuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sebagai bentuk edukasi terhadap kalangan milenial, KoinWorks juga menyediakan video panduan yang akan membimbing mereka untuk menentukan arah investasi mereka.

“Misalnya di aplikasi mereka lihat ada lima peminjam, mereka bisa pilih mau yang mana. Investor punya dana Rp 500 ribu, bisa dipecah ke beberapa peminjam dengan kelipatan Rp 100 ribu,” paparnya.

Sedangkan dari segi keamanan siber, KoinWorks sudah mengantongi sertifikasi ISO 27001 yang menjamin sistem manajemen keamanan informasi.

Baca juga: Huawei Dikeluarkan dari SD Association Hingga Wi-fi Alliance

“Untuk teknis pengamanan siber di aplikasi maupun web, itu bukan ranah saya. Tapi yang pasti, kami sudah punya ISO 27001 dari tahun lalu. Selain itu, tim IT cukup kompeten di bidangnya,” tandas Jonathan.

Smartfren Hadirkan Kartu Perdana Untuk Wisatawan Mancanegara

Data Biro Pusat Statistik mencatat, selama tahun 2018 kunjungan wisatawan asing ke Indonesia, telah mencapai 15,81 juta atau adanya kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan dengan periode yang sama sepanjang tahun 2017, yaitu sebanyak 14,04 juta.

Baca juga: Perusahaan Lakukan Transformasi Digital, SDM Jangan Dilupakan

Melihat hal tersebut, perusahaan penyedia jasa layanan telekomunikasi berteknologi 4G LTE, PT. Smartfren Telecom, Tbk, menghadirkan Kartu Perdana Smartfren Tourist Pack. Sebuah kartu perdana yang khusus dihadirkan guna mendukung kelancaran komunikasi bagi wisatawan mancanegara ketika berkunjung ke Indonesia.
Tentunya banyak manfaat yang akan didapatkan dari kartu perdana ini dari segi produsen dan konsumen yang terutama. Selain kemudahan dalam mengakses komunikasi selama berada di Indonesia, bisa juga digunakan untuk mencari referensi wisata. Dari segi harga juga sangat terjangkau untuk wisatawan yang melakukan perjalanan backpacker maupun non backpacker.

“Kartu Perdana Smartfren Tourist Pack ini kami hadirkan agar para wisatawan mancanegara dapat memperoleh kemudahan akses komunikasi selama berada di Indonesia. Misalnya seperti untuk mencari dan mendapatkan referensi lokasi wisata di Indonesia. Selain itu kami berharap hadirnya kartu ini dapat juga mendukung kemajuan dunia pariwisata di Indonesia.” ujar Hermansyah, VP Mobility Development, dikutip dari keterangan tertulis, Senin, 27 Mei 2019 lalu.

Baca juga: Dari Layanan GrabCar Premium Hingga Grab Katering

Kartu Perdana Smartfren Tourist Pack dihadirkan dalam dua penawaran benefit kuota data. Pertama adalah kartu perdana Tourist Pack Unlimited internet kuota 24 jam, yang ditawarkan seharga Rp. 100.000,- dan berlaku selama 14 hari. 

Adapun penawaran kedua adalah kartu perdana Tourist Pack 30GB total kuota internet yang dapat diperoleh seharga Rp 200.000,- juga berlaku selama 14 hari. Semua kartu perdana Tourist Pack, juga memberikan bonus menelepon internasional selama 10 menit.

Kartu ini cocok ditawarkan para agent travel kepada para turis asing yang masuk ke Indonesia. Karena bisa memudahkan mereka terhubung ke internet dan orang terdekatnya di negaranya.

Baca juga: GrabBajay, Solusi Menyasar Jalur yang Sulit Dijangkau

Perusahaan Lakukan Transformasi Digital, SDM Jangan Dilupakan

0

Para pemimpin bisnis di Indonesia memandang kemajuan dan kemampuan transformasi digital dalam organisasi mereka menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Namun, optimisme tersebut masih menyisakan tantangan terkait kualitas sumber daya manusia (SDM) bidang teknologi digital.

Dalam penelitian bertajuk “Disruptive Decision Making” yang diprakarsai oleh Telstra, perusahaan telekomunikasi dan teknologi asal Australia.

Penelitian ini mensurvei 3.810 pengambil keputusan senior, termasuk 350 dari Indonesia. 12 industri di 14 pasar di seluruh dunia mengenai kekuatan dan kelemahan di sekitar inisiatif dan pengambilan keputusan transformasi digital.

Baca juga: Pemrograman Komputer Paling Penting Untuk Dipelajari di Tahun 2019

Hasil penelitian mengungkapkan tingkat kepercayaan tinggi dari pemimpin bisnis di Indonesia percaya dalam kemajuan transformasi digital yang telah dicapai, dengan responden survei menempatkan Indonesia di urutan ketiga secara global.

Sebanyak 26 persen pemimpin bisnis di Indonesia menggambarkan perusahaan mereka sangat matang secara digital, dibandingkan rata-rata 21 persen secara global.

Selain itu, sekitar 27 persen pemimpin bisnis di Indonesia juga mengemukakan organisasi mereka telah membuat keputusan transformasi digital ‘sangat baik’, di atas rata-rata global atau 23 persen.

Tingginya optimisme para pemimpin bisnis di Indonesia ini akan membantu mendorong investasi dan keterlibatan perusahaan untuk program-program penting transformasi digital. Namun, kepercayaan ini harus diimbangi dengan realitas ekosistem digital Indonesia.

Baca juga: Produsen Chip Terbesar China Hengkang dari Bursa Efek New York

Penelitian ini juga menemukan bahwa 33 persen perusahaan lokal di Indonesia telah menginvestasikan lebih dari US$500 ribu dalam produk dan layanan transformasi digital selama setahun terakhir. Sementara hampir 1 dari 10, atau 8 persen, perusahaan Indonesia menghabiskan investasi lebih dari US$5 juta.

“Empat puluh persen perusahaan di Indonesia mengharapkan total pengeluaran perusahaan untuk transformasi digital meningkat lebih dari 10 persen dalam tiga tahun ke depan, di atas level global atau 32 persen,” kata Direktur Utama Telkomtelstra, Erik Meijer, dalam keterangannya, Senin, 27 Mei 2019.

Menurutnya, pemimpin bisnis di Indonesia menempatkan ‘pemahaman teknologi’ sebagai area di mana mereka memiliki kemampuan paling besar dalam transformasi digital. Akan tetapi penelitian ini menunjukkan organisasi global paling sukses mengambil pendekatan yang berbeda.

Perusahaan-perusahaan paling maju secara digital di seluruh dunia menunjukkan fokus yang lebih besar pada orang dan proses daripada teknologi sebagai kunci utama.

Baca juga: Bingung Buka Puasa Dimana? Cari Restoran Di Qraved Aja!

“Transformasi digital merupakan suatu keharusan. Karena itu, diskusi telah bergeser dari ‘mengapa’ digitalisasi itu penting, ke ‘bagaimana’ itu bisa dilaksanakan dengan sukses,” jelas Erik.

Sebagai informasi, Telstra merupakan salah satu perusahaan induk yang membentuk perusahaan patungan (joint venture enterprise) dengan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk.

Tantangan Huawei Jika Pakai Sistem Operasi Buatan Sendiri

Huawei sedang mengembangkan sistem operasi sendiri bernama OS Hongmeng untuk menggantikan sistem operasi Android. Sebelumnya, Google telah menghentikan dukungan sistem operasi Android kepada ponsel-ponsel terbaru Huawei.

Tentunya, tidaklah mudah bagi Huawei mengembangkan sistem operasinya sendiri.

Direktur Penelitian dari Counterpoint Neil Shah mengatakan ada sejumlah kesulitan yang akan dihadapi Huawei jika hendak memakai sistem operasi (Operating System/OS) sendiri.

“Tantangan pertama,Huawei perlu membuat OS yang senyaman Android dan berbagai aplikasi yang beragam,” katanya seperti dikutip CNBC.

Kedua, Huawei harus menghadirkan aplikasi-aplikasi yang aman untuk sistem operasi terbaru tersebut karena keamanan aplikasi membutuhkan sumber daya yang intensif.

“Huawei harus pastikan keamanan aplikasi sangat penting, termasuk memindai dan melakukan sertifikasi aplikasi,” ucapnya.

Baca juga: Bank Indonesia Rilis Standard QR Code, Bayar Tak Repot Lagi

Selain masalah software, Huawei juga akan kesulitan mendapat pasokan cip karena perusahaan semikonduktor ARM memutuskan untuk menunda bisnisnya dengan Huawei. ARM adalah dasar dari arsitektur chipset buatan Huawei, Kirin 980.

Shah mengatakan chipset ARM akan menjadi dasar dari kecerdasan sebuah ponsel. OS yang digunakan sangat bergantung pada arsitektur chipset.

“Jika ARM ikut memblokir Huawei, maka ini akan menjadi masalah bagi OS Huawei. Terutama jika sistem operasi itu dibuat berbasis pada arsitektur ARM,” ujarnya.

Baca juga: Huawei Di-Blacklist AS, Bagaimana Nasib Xiaomi, Oppo, dan Vivo

OS Huawei, Kapan?

Sebelumnya, Richard Yu, Kepala Divisi Konsumer Huawei memastikan Huawei akan memperkenalkan dua sistem operasinya pada kuartal empat tahun ini.

Lantas kedua sOS itu akan siap digunakan pada awal 2020 sekitar kuartal 1 atau 2.

Selain itu, OS ini juga akan menyediakan toko aplikasi sendiri yang disebut App Gallery.

“Saat ini Huawei masih berkomitmen (menggunakan) Microsoft Windows dan Google Android. Tapi kalau kami tak bisa menggunakan itu, Huawei mempersiapkan rencana alternatif untuk menggunakan sistem operasi kami sendiri.” pungkasnya.

Baca juga: Huawei Dikeluarkan dari SD Association Hingga Wi-fi Alliance

Namun, jika bisa memilih, Huawei tidak ingin menggunakan sistem operasi mereka sendiri. “Kami tidak mau melakukan hal ini tapi kami terpaksa melakukannya karena pemerintah AS,” seperti dilansir Business Insider.

Google mengumumkan pemblokiran pada Huawei dari pembaruan software Android. Hal ini dilakukan karena pemerintah AS memberlakukan aturan agar perusahaan AS membuat perizinan ke pemerintah sebelum menjual apapun kepada Huawei.

Hal itu berarti Huawei tak bisa lagi membeli lisensi sistem operasi Android dari Google. Namun belakangan, pemerintah AS memperbolehkan Huawei tetap menggunakan teknologi AS selama 90 hari ke depan.

Jika Huawei tidak diperbolehkan lagi menggunakan Android, maka hal ini akan menjadi masalah bagi para penggunanya. Sebab, mereka akan kesulitan untuk memasang aplikasi favorit dari Play Store.

Huawei Dikeluarkan dari SD Association Hingga Wi-fi Alliance

Huawei kembali mendapat tekanan dari dunia internasional pasca pelarangan produk oleh Amerika Serikat. Kali ini produk elektronik asal Cina ini dikeluarkan oleh beberapa organisasi dan aliansi teknologi.

Dengan dikeluarkannya produk elektronik tersebut dari berbagai organisasi perusahaan teknologi kini membuat perusahannya harus berjuang sendiri.

SD Association dan Wi-Fi Alliance adalah contoh organisasi yang mengeluarkan Huawei dari daftar keanggotaan mereka. SD Asscociation bergerak untuk kembangkan SD Card dan memberikan lisensi logo SD Card serta menjamin hak cipta pada anggotanya.

Baca juga: Bank Indonesia Rilis Standard QR Code, Bayar Tak Repot Lagi

Beberapa perusahaan produsen SD card yang tergabung dalam asosiasi ini adalah Panasonic, SanDisk, hingga Toshiba.

SD Association terpaksa mengeluarkan Huawei dari daftar anggota mereka karena terkena pengaruh dari aturan Amerika Serikat.

Organisasi non-profit ini memiliki kantor pusat di California, sehingga mau tidak mau harus mematuhi aturan yang diberikan Amerika Serikat.

Meski belum tahu dampak dari dikeluarkannya Huawei, namun melansir dari Android Police, kemungkinan terburuk yang terjadi pada produk tersebut adalah tidak dapat lagi gunakan SD card.

Organisasi asal Texas, Wi-Fi Alliance juga harus mematuhi aturan Amerika Serikat karena masih berada di wilayah yuridikasi Amerika. Aliansi ini memberikan sertifikat pada produk Wi-Fi yang disematkan dan mengembangkan teknologi Wi-Fi baru.

Baca juga: Huawei Di-Blacklist AS, Bagaimana Nasib Xiaomi, Oppo, dan Vivo

Salah satu akibatnya ialah tentu saja terancam tidak bisa menggunakan Wi-Fi pada produknya.

Huawei juga dikeluarkan dari JEDEC, sebuah organisasi yang mengatur penggunaan port USB dan RAM yang berbasis di Virginia.

Keputusan beberapa organisasi tersebut melengkapi tekanan yang dihadapi oleh produsen elektronik asal Cina usai kehilangan manufaktur chip dan system operasi Android. Hal baiknya, kini perusahaan tersebut sedang mengembangkan sistem operasi sendiri bernama OS Hongmeng untuk menggantikan sistem operasi Android.

Huawei saat ini hanya memilki waktu sampai Agustus 2019 mendatang sebelum semua perusahaan Amerika memutus hubungan dengan perusahaan tersebut.

Baca juga: Produsen Chip Terbesar China Hengkang dari Bursa Efek New York