as

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memasukan Huawei Technologies ke dalam daftar hitam perusahaan yang harus meminta izin terlebih dahulu jika ingin berbisnis dengan perusahaan AS.

Dampak peraturan itu, Alphabet, perusahaan induk usaha Google menangguhkan kerja sama dengan Huawei dan tidak akan mendukung update perangkat Huawei yang berbasis Android.

Produsen chip AS, Intel, Qualcomm dan Broadcom juga menangguhkan sementara kerja sama dengan Huawei. Produsen chip asal Jerman Infineon Technologies juga mengikuti langkah tersebut.

Baca juga: Pemrograman Komputer Paling Penting Untuk Dipelajari di Tahun 2019

Selang beberapa hari kemudian, Departemen perdagangan Amerika Serikat melonggarkan beberapa sanksi berupa perangkat Huawei masih bisa mendapatkan update dari Google dan software lainnya Selama 90 hari mendatang.

Namun, tetap saja Huawei tak bisa membeli perangkat, suku cadang dan komponen dari perusahaan itu.

Riset Counterpoint menyebutkan hingga kuartal IV-2018, ada lima produsen ponsel Tiongkok yang menguasai pasar ponsel yaitu Huawei (28%), Oppo (20%), Vivo (12%), Xiaomi (9%) dan Meizu (2%).

Untungnya, Vivo, Oppo, Xiaomi dan Meizu tidak akan terseret dalam pusaran kasus Huawei karena keempat produsen smartphone asal Tiongok itu tidak melanggar peraturan.

Baca juga: Produsen Chip Terbesar China Hengkang dari Bursa Efek New York

Sejak Era Obama

Huawei mulai bermasalah dengan AS ketika kepemimpinan Presiden Barack Obama. Ketika itu, pemerintah Amerika Serikat menduga Huawei mengelabui bank-bank AS sehingga bisa menggunakan jasa perbankan untuk bertransaksi dengan Iran.

Padahal Iran sedang dijatuhi sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat. Perusahaan asal Amerika Serikat dilarang memiliki hubungan bisnis dengan Iran. Saksi ini dijatuhkan karena masalah pengembangan nuklir di Iran.

Tersangka dalam kasus ini adalah Meng Wanzhou, CFO Huawei sekaligus anak dari Ren Zhangfei. Ia ditahan di Kanada atas permintaan AS dan sedang diusahakan untuk melakukan ekstradisi ke Amerika Serikat.

Tuduhan lain yang dihadapi oleh Huawei adalah terkait pencurian teknologi AS dan spionase. AS menuduh Huawei mencuri rahasia dagang milik T-Mobile US Inc. Kejadian tersebut antara 2012-2014.

Baca juga: OVO PayLater, Uang Digital Sekaligus Pengganti Kartu Kredit

T-Mobile menuduh Huawei mencuri teknologi yang disebut “Tappy,” Teknologi yang meniru jari manusia dan digunakan untuk menguji ponsel cerdas.

Badan Intelijen AS pun menuduh perangkat teknologi internet 5G Huawei bisa digunakan pemerintah Tiongkok untuk memata-matai AS.

Tudingan itui semakin menguat karena latar belakang Ren Zhangfei (Pendiri Huawei) merupakan mantan perwira militer Tiongkok dan anggota dari Partai Komunis Tiongkok.

Ren Zhengfei membantah tuduhan spionase tersebut dengan menyatakan Huawei independen dan tidak akan tunduk pada keinginan pemerintah China. Huawei juga menjamin perangkat mereka sangat aman.

Ren Zhengfei mengatakan tuduhan tersebut bersifat politis, alih-alih masalah keamanan (security) perangkat.