Facebook masih dalam tahap mengkaji rencana untuk berhenti menampilkan jumlah like dalam postingan para penggunanya. Guna mengurangi tekanan sosial di media sosial yang dapat memicu gangguan kesehatan psikologis. Serta mengurangi gangguan atau penghakiman ketika postingannya tidak mendapatkan like banyak.

Informasi ini dibocorkan oleh Jane Manchun Wang, peneliti aplikasi independen yang menemukan ada kode penyembunyian jumlah like dalam aplikasi android Facebook. Hingga kini perusahaan besutan Mark Zuckeberg tidak menepis berita tersebut, namun menolak untuk membeberkan secara rinci. Rencananya akan di implementasikan secara bertahap, lalu menghentikannya jika hal tersebut merugikan terhadap sisi penggunaan atau pendapatan iklan

Baca juga: Nyayur.id, Strart-up Digital Pertanian di Indonesia

Melalui rencana penghapusan tersebut, hanya pemilik kiriman yang bisa melihat jumlah penyuka kontennya. Orang lain tidak bisa melihatnya kecuali teman bersama yang menyukai pengguna.

Kebijakan ini juga sedang dilakukan dalam platfrom instagram sejak awal tahun 2019. Uji coba dilakukan di tujuh negara, termasuk Australia, Brasil, Kanada, Irlandia, Italia, Selandia Baru, dan Jepang. Namun, sejumlah pengguna Instagram telah protes dengan jumlah like yang membuat pengguna merasa buruk bila postingannya tidak mendapat jumlah like yang cukup. Hal ini memberikan tekanan bagi beberapa pengguna instagram.

Terutama bagi selebgram, kebijakan ini mengakibatkan mereka harus memutar otak untuk menemukan solusinya. Sebab selama ini para selebgram hanya menjual ‘like’ agar menghasilkan uang dari produk yang di endorse. Jumlah ‘like’ di instagram dikaitkan dengan engagement (keterikatan dan komunikasi dua ara brand dan konsumen.

Baca juga: Bootstrapping dan Penerapannya Dalam Startup

Sedangkan Instagram menjelaskan melalui akun twitter resminya, rencana penyembunyian ‘like’ agar pengguna lebih fokus pada foto dan video yang dibagikan teman bukan pada berapa banyak ‘like’ yang didapatkan dari postingan tersebut. Strategi Facebook dan Instagram untuk mendorong pengguna lebih menggunakan ‘stories’.

Mengutip dari pernyataan CEO Social Native David Shadpour melalui CNBC International, tujuan Facebok dan Instagram adalah untuk mendorong pengguna ke Stories, karena mereka percaya masa depan dalam bentuk video pendek, bukan gambar statis atau News Feed. Dengan mengurangi fokus pada ‘like’ sebagai ukuran keberhasilan pengguna. Pembuat konten diharapkan lebih memiliki kontrol kreatif dalam menyajikan konten yang diunggah.